MENGAIS REJEKI DI PASAR KEPUTRAN Agustus 14, 2008
Posted by solusisurabaya in News.Tags: kehidupan, pasar, pasar keputran, pedagang, Surabaya
trackback
Surabaya- Bagi Soeparno laki-laki usia setengah abad asal kota Surabaya ini merasakan beratnya pergulatan hidup di kota besar seperti Surabaya ini. Hari-harinya dihabiskan untuk mengais rezeki di Pasar Keputran sebagai penjahit baju dan vermak celana panjang.
“Rasanya sangat berat hidup di kota besar ini karena selain harga kebutuhan hidup cukup mahal juga penghasilannya yang tidak tentu. Saya menerima jahitan dari warga setempat yang menginginkan tarif murah. Namun demikian, tidak setiap hari ada orang menjahitkan kainnya sehingga belum tentu dalam sehari dapat uang,”katanya saat ditemui di Pasar Keputran hari ini.
Supeno yang memiliki satu istri dan dua anak masih usia sekolah dasar itu harus berjuang keras menghidupi keluarganya. Setiap hari dia berharap-harap menunggu orang untukmenjahitkan kainnya di tempat dia kerja di Pasar Keputran.
Bagi orang dengan penghasilan rendah memang tempat usahanya sebagai penjahit menjadi alternatif karena jika menjahit baju di tempat lain tarifnya sudah tinggi. “Saya memasang tarif antara Rp.10.000 hingga Rp.15.000 per potong baju. Sedangkan di tempat penjahit di lain tempat sudah mencapai Rp.50.000-Rp.75.000 per potong,”katanya.
Tempat usaha menjahit milik Supeno memang menjadi pilihan bagi warga yang tidak mampu. Meskipun hasil jahitannya sederhana namun memberikan rasa puas bagi pelanggannya. Mereka tidak pernah protes dengan hasil jahitannya.
Namun, bagi Soepeno masih merasakan berat dengan hasil yang minim dari menjahit yaitu anatara Rp.30.000 hingga Rp.40.000 per hari. “Penghasilan sehari itu hanya cukup untuk membeli kebutuhan makan satu hari,”kata Soepno.
Komentar»
No comments yet — be the first.